Sabtu, 18 Januari 2014

PROSES PERJUANGAN KEMERDEKAAN FILIPINA (1751-1946)



PROSES PERJUANGAN KEMERDEKAAN FILIPINA (1751-1946)
2.1  Latar Belakang Proses Penjajahan di Filipina
Filipina adalah sebuah negara republik di Asia Tenggara, sebelah utara Indonesia dan Malaysia. Filipina merupakan sebuah negara kepulauan. Negara ini terdiri dari 7.107 pulau, Filipina seringkali dianggap sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara di mana pengaruh budaya Barat terasa sangat kuat (Spanyol dan Amerika Serikat).
Filipina adalah negara paling maju di Asia setelah Perang Dunia II, namun sejak saat itu telah tertinggal di belakang negara-negara lain akibat pertumbuhan ekonomi yang lemah, hal ini diakibatkan oleh penyitaan kekayaan yang dilakukan pemerintah, korupsi yang luas, dan pengaruh-pengaruh neo-kolonial. Saat ini Filipina mengalami pertumbuhan ekonomi yang moderat, yang banyak disumbangkan dari pengiriman uang oleh pekerja-pekerja Filipina di luar negeri dan sektor teknologi informasi yang sedang tumbuh pesat.

Provinsi dan wilayah di Filipina
Masalah-masalah besar yang timbul di negara ini termasuk gerakan separatis muslim di sebelah selatan Mindanao, pemberontak-pemberontak dari Tentara Rakyat Baru (New People's Army) yang beraliran komunis di wilayah-wilayah pedesaan, kebijakan-kebijakan pemerintah yang sering tidak konsisten, tingkat kejahatan yang makin meningkat, dan kerusakan lingkungan seperti penebangan hutan dan polusi laut. Filipina juga mengalami masalah banyaknya penduduk di daerah-daerah perkotaan akibat kurangnya lapangan pekerjaan di wilayah pedesaan dan tingkat kelahiran yang tinggi.
Pada tahun Oktober 1762 sampai Mei 1764 Inggris menduduki Manila. Pendudukan Inggris di Manila itu merupakan suatu kejadian didalam perang tujuh tahun. Pemerintah Inggris mengharapkan pendudukan tersebut untuk menghasilkan rampasan amat besar dan melakukan pengrusakan yang serius kepada perdagangan Spanyol di Pasifik, tetapi tidak mempertimbangkan untuk tetap menguasainya sesudah perang tersebut. Mereka secara pasti bertujuan untuk mendesak Spanyol dari laut-laut China di dalam meluaskan perdagangan sendiri di situ, maka menganggab bahwa penggabungannya pulau Mindanao dapat merupakan bantuan terbesar untuk maksud tersebut. Tetapi berita tentang penguasaan kota Manila itu tidak mencapai Eropa pada waktu hasil perundingan-perundingan di Paris tercapai, maka East India Company (EIC) tetap dicagah untuk menggunakan Manila sebagai suatu penghalang perdagangan. Manila diserahkan kembali kepada Spanyol dan uang tebusan sebesar 4 juta dollar dijanjikan oleh pengusa Spanyol bila kota itu diserahkan tetapi ditolak oleh Madrid. Akibat dari pendudukan Inggris di Filipina tersebut sebaliknya tersebar luas. Perhatian dunia jadi difokuskan kepada Manila untuk pertama kalinya, selama beberapa bulan Manila dibuka untuk perdagangan asing maka pedagang Inggris dan pedagang asing lainnya bertandatangan ntuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinannya sebagai pusat perdagangan. Lebih penting lagi gampangnya kota itu direbut telah mengakibatkan hancurnya prestige militer Spanyol untuk selamanya, sehingga pemberontakan-pemberontakan meletus di mana-mana.
Ditinjau dari sejarahnya, Filipina dipercaya telah dimulai dengan kedatangan manusia pertama lewat jembatan darat paling tidak 30.000 tahun yang lalu. Kedatangan pertama orang-orang Barat yang tercatat adalah kedatangan Ferdinand Magellan di Pulau Homonhon, di tenggara Samar pada 16 Maret 1521. Sebelum kedatangan Magellan, terdapat suku-suku Negrito yang menjelajahi pulau-pulau Filipina, namun mereka kemudian digantikan oleh orang-orang Austronesia. Kelompok-kelompok tersebut dapat digolongkan menjadi suku pemburu dan peramu, masyarakat kesatria, plutokrasi kecil, dan kerajaan maritim, yang kemudian tumbuh menjadi kerajaan, konfederasi dan kesultanan. Negara-negara prakolonial itu contohnya kerajaan Butuan, Cebu, Tondo, Maysapan, Maynila, konfederasi Madyaas, Negeri Mai, dan kesultanan Sulu serta Maguindanao. Negara-negara kecil ini berkembang paling tidak sejak abad ke-10. Meskipun kerajaan-kerajaan ini mencapai tatanan politik dan sosial yang rumit, serta melakukan perdagangan dengan daerah-daerah yang sekarang menjadi Cina, India, Jepang, Thailand, Vietnam dan Indonesia, tidak ada yang berhasil menyatukan kepulauan yang sekarang menjadi Filipina di abad ke-20.
Pada tahun 1521, ketika orang Portugis dan Spanyol bertemu di Maluku, timbul perselisihan antara keduanya. Bangsa zSpanyol dan Portugis saling menuduh, bahwa lawannya melanggar isi perjajnian Tordessilas (1494). Perselisihan ini kemudian dapat diakhiri dengan ditandatangani Perjanjian Saragosa (1529), yang menetukan batas timur antara wilayah kekuasaan Portugis dan Spanyol yaitu garis meridian yang melalui kepulauan Jailolo. Namun demikian, Spanyol tetap mengklaim bahwa daerah kepulauan (sekarang Filipina) adalah wilayah kekuasaannya karena merekalah yang pertama kali menemukannya. Mereka berusaha menduduki daerah itu. Pada tahun 1542 Ruy Lopez de Villaloboz berangkat dari Meksiko untuk menaklukkan daerah tersebut. Dialah yang memberikan nama “Philippines” sebagai penghormatan kepada Raja Spanyol yaitu Raja Phillips II.
Ekspedisi kedua dikirim pada tahun 1562 di bawah pimpinan Miguel Lopez de Legazpi. Berangkat dari Meksiko dengan pasukannya yang kuat. Perang berlangsung antara tahun 1565-1572. Perang ini berakhir dengan penaklukkan tiga kerajaan Islam yang belum lama didirikan di Manila yaitu Raja Sulaiman, Raja Matarda dan Raja Lakandula. Raja Matarda dan Raja Lakandula lebih dulu tunduk kepada Spanyol dan kemudian memeluk agama Kristen, sedangkan Raja Sulaiman melawan sampai gugur.
Akhirnya Spanyol lah yang berhasil menguasai Filipina, hal ini dibuktikan dengan kedatangan ekspedisi Miguel López de Legazpi pada tahun 1565, yang mendirikan pemukiman San Miguel di pulau Cebu dan lebih banyak lagi pemukiman ke utara, mencapai teluk Manila di pulau Luzon pada tahun 1571. Di Manila, mereka mendirikan kota baru dan dengan demikian memulai era penjajahan imperium Spanyol, yang berlangsung lebih dari tiga abad.
Tujuan penjajahan Spanyol di Filipina adalah:
1.  Ingin menguasai perdagangan rempah-rempah
2.  Ingin mengadakan hubungan dengan Cina dan Jepang dalam rangka menjalin hubungan dagang yang luas
3. Menyebarkan agama Nasrani
Atas dasar di atas itulah yang melatar belakangi bangsa Spanyol menginjakkan kakinya di tanah Filipina. Namun dalam proses perkembangannya dari tujuan tersebut, hanya tujuan yang ketiga yang dapat dicapai. Hal ini disebabkan oleh hal-hal berikut:
   Filipina tidak menghasilkan rempah-rempah, namun hanya menjadi bandar transito. Spanyol berusaha untuk menutupi kekurangan ini dengan mencoba mengeksploitasi emas dan ternyata kawasan ini juga tidak menghasilkan emas. Akhirnya Spanyol berusaha meningkatkan posisi Manila sebagai Bandar transito yang penting di Asia Tenggara. Namun ketika Inggris membangun Hongkong (1842) kedudukan Manila sebagai Bandar transito jatuh.
   Upaya Spanyol untu menjalin hubungan dagang dengan Jepang dan Cina gagal karena keduanya menjalankan isolasi.
   Tujuan yang ketiga ini yang tercapai. Penyebaran agama Nasrani di Filipina paling berhasil dibandingkan dengan penyebaran agama Nasrani di bagian Asia Tenggara lainnya. Mungkin disebabkan penyebaran agama Islam di Filipina sebelah Utara belum meluas. Banyak diantara penduduk asli menganut animisme dan dinamisme.
Bangsa Spanyol menguasai dan menjajah Filipina dengan sistem kuno, yaitu Gospel (Penyebaran agama), Gold (Emas), dan Glory (kejayaan). Penyebaran agama Roma Katolik mendapat bantuan dari pemerintah spanyol sebagian besar penduduk Filipina memeluk agama Roma Katolik hanya Filipina bagian selatan tidak dapat dipengaruhi dan tetap memeluk agama Islam (Moros). Biara-biara Roma Katolik muncul dimana-mana yang akhirnya menguasai sebagian besar tanah-tanah di Filipina. Para petani tidak dapat berbuat apa-apa karena biara-biara itu mendapatkan jaminan dan perlindungan dari pemerintah jajahan Spanyol.

2.2  Proses Penjajahan di Filipina
Pada awal penjajahan Spanyol di Filipina hanya terdapat satu lembaga kehidupan masyarakat yaitu “barangai”, suatu kumpulan keluarga dalam lingkungan pengaturan kehidupan masyarakat yang bersifat lokal. Setalah kedatangan bangsa Spanyol Barangai dijadikan sebagai unit pemerintahan lokal di bawah “cabeza”. Pemimpin cabeza ini secara turun-temurun  mempunyai hak-hak istimewa dibandingkan dengan jabatan-jabatan yang lainnya, yaitu bertanggung jawab atas pajak dan pelaksanaan pemerintahan.
Sedangkan jabatan di atas cabeza adalah “Pueblo” khususnya Bandar-bandar pelabuhan yang diperintah oleh Gobernadorcillo yang biasa dipanggil “capitan”. Capitan tersebut dipilih secara demokratis di kalangan orang-orang Spanyol. Di samping itu, dibentuk pula badan perbendaharaan rakyat yang disebut Caja de Cominad. Badan ini kedudukannya sangat kuat, karena dilindungi oleh “Audencia” (Dewan Rakyat di Spanyol) tugasnya adalah menghadapi dan mengatasi kesulitan-kesulitan dalam bidang ekonomi.
Dalam pelaksanaan pemerintahan pada umunya Filipina dikuasai oleh dua bentuk pemerintahan, yaitu:
            Pemerintahan Sipil, yang dipimpin oleh Gubernur Jendral
            Pemerintahan Gereja, yang dipimpin oleh seorang Uskup
Kedua pemerintahan itu mempunyai kedudukan yang seimbang. Dalam hal-hal tertentu pemerintahan gereja lebih besar pengaruhnya. Pada waktu Spanyol menghadapi perang Delapan Puluh tahun 1468-1648 melawan Belanda, akibatnya terasa di Filipina Belanda mengancam kedudukan Spanyol di Filipina. Untuk membiayai peperangan ini, pemerintahan jajahan Spanyol di Filipina melaksanakan sistem penindasan sebagai berikut:
            Pelaksanaan sistem “Polo”, semua orang, kecuali pembesar dan anak sulung harus bersedia menjadi buruh, pekerjaannya cukup berat, gaji jarang di bayar. Kepadanya hanya diberikan beras untuk menyambung hidup.
            Sistem “Vancala”, semua orang Filipina (petani) dipaksa menjual hasil buminya kepada pemerintah yang membayarnya dengan surat perjanjian utang dari pemerintah. Sistem ini sangat menindas kehidupan petani (Ahmad, Abu Thalib. 1991: 132).
Selain itu Pemerintahan Spanyol di Filipina juga berusaha mencapai penyatuan politik  seluruh kepulauan, yang sebelumnya terdiri atas berbagai kerajaan dan komunitas merdeka, namun hal ini tidak berhasil. Penyatuan Filipina baru berhasil pada abad ke-20. Spanyol memperkenalkan percetakan versi Eropa Barat, dan kalender Gregorian, dan juga cacar, penyakit kelamin, lepra, perang dengan senjata api. Hindia Timur Spanyol diperintah dan diadministrasi sebagai bagian Kerajamudaan Spanyol Baru dari Meksiko dari 1565 sampai 1821, dan diadministrasi langsung dari Madrid dari tahun 1821 sampai akhir Perang Spanyol-Amerika di tahun 1898, kecuali pada selang singkat pendudukan Britania di Filipina (1762-1764). Orang-orang Cina, Britania, Portugis, Belanda, Jepang dan pedagang pribumi mengeluh bahwa Spanyol menekan perdagangan dengan pemberlakuan monopoli Spanyol. Misionaris Spanyol mencoba mengkristenkan penduduk dan umumnya sukses di dataran rendah utara dan tengah, pada akhirnya. Mereka mendirikan sekolah, universitas, dan rumah sakit, terutama di Manila dan pemukiman benteng-benteng Spanyol.
Kedudukan pemerintahan Spanyol di Filipina sangat kuat karena hal-hal yang menyangkut keagamaan dianggap lebih penting dari pada yang lainnya. Maka terhadap pemerintahan agama inilah bangsa Filipina mengarahkan serangannya untuk membebaskan diri. Sedang pemerintahan sipil, sebagaimana dengan sistem pemerintahan bangsa-bangsa Eropa atau bangsa-bangsa penjajah lainnya, untuk memenuhi kepentingan kaum penjajah, mereka selalu melakukan tindakan penindasan dan pemerasan, begitu juga yang terjadi terhadap rakyat Filipina.
Bangsa Spanyol menduduki Filipina karena menurut perkiraannya kepulauan Filipina memiliki kekayaan dari kerajaan-kerajaan kuno seperti halnya kerajaan-kerajaan kuno di Amerika. Ketika yang mereka cari namun tidak berhasil ditemukan, maka bangsa Spanyol bermaksud menjadikan kota Manila sebagai pusat perdagangan di Asia. Manila akhirnya menjadi gudang rempah-rempah sehingga kapal-kapal Eropa tinggal membeli dan membawanya kembali ke Eropa tanpa susah payah mendapatkannya. Manila maju dengan pesatnya lebih-lebih dengan majunya tanah-tanah jajahan Amerika, Manila menjadi pelabuhan perantara ke tanah-tanah jajahannya di Asia lainnya.
Pada abad ke-19, aktivitas perekonomian di Manila mengalami kemerosotan. Hal ini disebabkan dengan munculnya imperialisme Inggris yang mulai bergerak ke Asia Tenggara dan Asia Timur Singapura dan Hongkong dikuasainya serta Cina menjadi tanah harapan bagi imperialisme barat.
Sejak terbukanya Jepang, perhatian bangsa-bangsa barat ( Eropa-Amerika Serikat) tertuju kepada Jepang sehingga perdagangan Manila mengalami kemerosotan, sejak saat itu pula pemerintahan jajahan spanyol di Filipina mulai runtuh dari dalam perdagangan. Makin lama makin jatuh ke tangan orang-orang Cina yang semakin banyak datang ke Filipina.
2.3  Bentuk-bentuk perjuangan untuk Mencapai Kemerdekaan
Penentangan adat resam dan penindasan kerajaan Spanyol ini telah mencetuskan pemberontakan Basi. Pemberontakan ini dapat disamakan dengan peristiwa “Whisky Rebellion” di Amerika Syarikat pada tahun 1794.
            Pemberontakan ini melibatkan golongan tentara Filipina yg tidak puas hati dengan amalan diskriminasi tentara Spanyol terhadap tentara Filipina. Mereka dibedakan dari segi gaji, taraf jawatan dan pekerjaan, layanan dan peluang kenaikan pangkat. Ini terbukti apabila tentara Filipina diberi gaji yang rendah, layanan yang buruk dan tidak berpeluang menjawat jawatan yang lebih tinggi berbanding tentara Spanyol. Dalam pemberontakan ini tentera Filipina hampir menawan Manila. Pemberontakan ini sebenarnya satu usaha untuk mengembalikan maruah tentera Filipina yang ditindas agar setanding dengan tentara berbangsa Spanyol.
            Pemberontakan Tayabas merupakan pemberontakan golongan paderi-paderi Filipina menentang paderi Spanyol. Pemberontakan ini disebabkan amalan diskriminasi dikalangan paderi Sepanyol dgn paderi Filipina. Paderi-paderi Spanyol diberi berbagai kemudahan, keistimewaan dan memegang jawatan yang tinggi dalam gereja sedangkan paderi berbangsa Filipina diketepikan dan tidak dibenarkan menduduki jawatan penting dalam gereja. Gerakan ini dipimpin oleh paderi Apolinario de La Cruz Beliau mencoba menumbuhkan persatuan Gereja St.Joseph yang ahlinya terdiri daripada orang-orang Filipina sahaja. Namun cubaan Cruz mendapat tentangan daripada gereja Katolik.Cruz kemudiannya telah menubuhkan gerejanya sendiri dan melantik dirinya sebagai ketua Cruz juga tidak dibenarkan belajar di gereja katolik sebagai langkah menghalang peluasan kuasa paderi Filipina. Cruz telah menumbuhkan pertumbuhan agama yang dikenali sebagai Confrdia de San Jose yang bertujuan menghalang diskriminasi penguasa Sepanyol dlm gereja. Pertumbuhan ini diharamkan oleh Sepanyol bagi menghalang bergerak aktif dan mempengaruhi paderi-paderi lain. Pemberontakan ini tamat apabila Cruz dihukum bunuh dan penyokong-penyokongnya disingkirkan daripada gereja.
            Pemberontakan Cavite pada tahun 1872 adalah bercorak nasionalisma. Pemberontakan bersenjata ini berlaku di gudang senjata di Cavite. Ia dianggotai 200 orang askar diketuai oleh sarjan Lamadrid untuk menentang pegawai-pegawai Spanyol. Gerakan ini gagal kerana kekurangan senjata dan kekuatan tentera mereka tidak setanding tentera Sepanyol. Dalam pemberontakan tersebut, 41 org telah dihukum bunuh termasuk 3 orang paderi berbangsa Filipina iaitu Jose Burgos, Mariano Gomez dan Jancita Zamora. Pembunuhan 3 orang paderi ini merupakan satu tindakan kejam kerana mereka tidak terlibat langsung dalam pemberontakan ini. Peristiwa ini telah menyemarakan perasaan anti-Spanyol yang menyeluruh sehingga melahirkan golongan yang ingin membebaskan bangsa mereka.
Kebanyakan ahlinya merupakan pelajar Filipina yang menuntut di Spanyol. Gerakan ini wujud sejak tahun 1882. Gerakan ini disertai oleh golongan profesional. Antaranya termasuklah Dr.Jose Rizal, Lopez Jaena dan Marcelo del Pilar. Perjuangan mereka melalui media massa yang cuba mendedahkan kezaliman kerajaan Spanyol serta perjuangan menuntut hak persamaan taraf antara pegawai Filipina dengan pegawai Spanyol. Gerakan propaganda disalurkan melalui akhbar La Solidaridad.
Revolusi Filipina melawan Spanyol dimulai pada April 1896, yang berpuncak di dua tahun kemudian dengan proklamasi kemerdekaan dan pendirian Republik Pertama Filipina. Namun Traktat Paris, pada akhir perang Spanyol-Amerika, memindahkan kendali atas Filipina kepada Amerika Serikat. Perjanjian ini tidak diakui oleh pemerintah Filipina, yang pada 2 Juni 1899, menyatakan perang terhadap Amerika Serikat.
Gerakan revolusi Filipina didasari oleh munculnya gerakan nasionalisme disebabkan oleh beberapa faktor:
a.             Keinginan untuk membebaskan diri dari kekangan agama Roma Katolik dan mengembalikan hak atas tanah-tanah pertanian kepada para petani dengan menghapuskan sistem sewa tanah yang dilakukan olah para petani kepada biara-biara.
b.            Tindakan pemerintah jajahan Spanyol yang kolot dan kejam menuntut kebebasan mengeluarkan pendapat.
c.             Timbulnya golongan pelajar, golongan pelajar ini melihat kepincangan-kepincangan kolonialisme Spanyol sehingga timbul keinginan mereka untuk merdeka.
d.            Terbukanya terusan Suez mempermudah hubungan antara Eropa dengan Asia. Orang-orang Filipina banyak yang belajar ke Eropa, dan setelah kembali langsung mengobarkan semangat nasionalisme.
e.             Perang kemerdekaan Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan terhadap Spanyol membuka mata bangsa Filipina untuk membebaskan diri dari penjajah Bangsa Spanyol dan mencapai kemerdekaannya.
Dengan sebab-sebab tersebut di atas, maka gerakan nasionalisme pertama kali muncul di Filipina dipelopori oleh kalangan mahasiswa di Manila pada tahun 1880, mereka mendirikan gerakan gelap yang disebut dengan nama Compenerismo (yang artinya persahabatan). Tujuan gerakan itu adalah mengusahakan pendidikan yang patriotis (semacam gerakan budi utomo di Indonesia).
Setelah munculnya gerakan itu, pada tahun 1892 Jose Rizal juga membentuk gerakan gelap yang disebut dengan Liga Filipina. Tujuan Liga Filipina adalah:
         Mempersatukan seluruh Filipina untuk menentang ketidakadilan dari pemerintahan jajahan Spanyol. Jose Rizal merupakan seorang pelopor kemerdekaan dan pahlawan Nasional Filipina.
          Menentang ketidakadilan dan kekejaman
         Mewujudkan kesatuan antara pulau-pulau Filipina
         Sentiasa membuat kajian dan menjalankan perubahan
         Menggalakkan kemajuan dalam segala bidang. Perjuangan bersifat sederhana dan secara aman.
Jose Rizal juga seorang Filipina yang dapat menjadi dokter ahli filsafat, ahli sastra dan yang telah mengunjungi Spanyol. Prancis, Jerman, Inggris. Selain itu dia juga menulis buku yang terkenal dan mengemparkan pemerintahan Spanyol di Filipina judul bukunya Noli Me Tangere (jangan menyentuh aku). Dalam buku itu, tercantum di dalamnya dengan keras mengkritik kaum gereja dan pemerintahan kolonial Spanyol di Filipina. Karena itu, kemudian dia ditangkap dan diasingkan namun setelah dibebaskan dia tetap melanjutkan usahanya untuk membebaskan bangsa Filipina dan memimpin gerakan-gerakan rahasia antara lain Liga Filipina, sampai akhirnya ia di tangkap lagi pada tanggal 30 September 1896 atas tuduhan ikut dalam pemberontakan Katipuna terhadap Spanyol. Ia dijatuhi hukuman mati tanggal 30 Desember 1896.
Sementara itu pada tahun 1893, ketika Jose Rizal diasingkan para pemimpin kemerdekaan Filipina lainnya mengangap bahwa jalan damai sudah tidak mungkin berhasil, sehingga muncul pemberontakan bersenjata. Pemberontakan bersenjata ini lebih dikenal dengan gerakan Katipuna yang didirikan oleh Andres Bonifacio. Gerakan Katipuna melakukan pemberontakan pada tahun 1896, tetapi mengalami kegagalan.
Selanjutnya pada tahun 1896, Emilio Aguinaldo meneruskan pemberontakan Katipuna pemerintahan Kolonial Spanyol tidak dapat menindasnya, bahkan makin lama pemberontakan makin berkobar. Akhirnya, pemerintahan kolonial Spanyol mengadakan perjanjian dengan Aguinaldo yang isinya pemerintahan kolonial Spanyol akan mengadakan perbaikan pemerintahan dalam waktu 3 tahun. Tetapi Aguinaldo dan pemimpin lainnya harus meninggalkan Filipina yaitu ke Hongkong. Aguinaldo meninggalkan Filipina dan pemberontakan berhenti. Tetapi dengan pecahnya perang Amerika-Spanyol tahun 1898, Aguinaldo muncul kembali. Dia memihak Amerika karena mengira bahwa Amerika akan menghancurkan kolonialisme Spanyol di Filipina dan memberikan kemerdekaan kepada Filipina.
Aguinaldo memproklamasikan kemerdekaan Filipina tanggal 12 Juni 1898.Kemudian dia menggempur tentara kolonial Spanyol. Hampir seluruh Filipina dapat dikuasai oleh Aguinaldo dan hanya Manila yang masih dikuasai Spanyol. Aguinaldo bersama-sama dengan tentara Amerika melakukan serangan terhadap Manila. Manila jatuh pada tanggal 13 Agustus 1898 dan tanggal 10 Desember 1898 secara resmi Spanyol menyerahkan Filipina kepada Amerika Serikat.
Dengan lenyapnya imperialisme Spanyol di Filipina, bukan berarti Filipina bebas dari cengkraman kaum imperialis. Hal ini disebabkan karena Amerika Serikat yang tadinya memberikan bantuan kepada Filipina untuk mengusir Spanyol berbalik dan bermaksud menguasai Filipina. Dengan kata lain, Amerika Serikat juga menjadi bangsa imperialis yang ingin menjajah Filipina. Melihat kejayaan ini, Aguinaldo protes dan tetap memegang teguh pada kemerdekaan Filipina. Undang-undang Dasar dibentuk dan Aguinaldo bertindak sebagai presiden (1898). Aguinaldo segera mengobarkan perjuangan untuk menentang Amerika Serikat. Dua tahun lamanya dia bertempur melawan Amerika Serikat, tetapi musuh terlampau kuat. Pada tahun 1901 Amerika Serikat dengan menjalankan tipu muslihatnya berhasil menangkap Aguinaldo, tetapi pasukan Gerilyanya tetap meneruskan perjuangannya sampai tahun 1902.
 Perang Filipina-Amerika yang kemudian terjadi berakibat korban dalam jumlah besar. Presiden Filipina Emilio Aguinaldo ditangkap pada tahun 1901 dan pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan konflik berakhir secara resmi pada tahun 1902. Para pemimpin Filipina pada umumnya menerima bahwa AS telah menang, namun permusuhan terus berlanjut dan baru mulai berkurang tahun 1913. Pemerintahan kolonial AS dimulai tahun 1905 dengan otonomi lokal sangat terbatas. Otonomi parsial (status persemakmuran) diberikan pada tahun 1935, dengan kemerdekaan penuh dari AS direncanakan pada tahun 1946. Persiapan untuk negara yang berdaulat sepenuhnya diinterupsi oleh pendudukan Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II.
Ketika Jepang Menyerah di Perang Pasifik berdampak pada Filipina, orang-orang mengalami kelaparan, banyak korban-korban yang meninggal dunia akibat dari Perang Dunia ke II, selain itu juga terjadi inflasi melonjak yang disebabkan oleh uang yang di edarkan Jepang di Filipina menjadi 800% dari nilai sebelum perang. Dengan keadaan tersebut Amerika Serikat berbuat banyak untuk meringankan penderitaan dan kesengsaraan rakyat Filipina. Dengan menegakkan kembali tataran perekonomian, pembukaan kembali sekolah-sekolah dan sarana komunikasi dihidupkan kembali.
Pada tanggal 23 April 1946 diselenggarakan pemilihan umum pertama di Filipina, kaum petani di daerah Luzou Tengah mendukung partai Demokratic Alliance Party dengan calon ketua Luis Taruc dan wakil Jesus Lava. Namun mereka ditolak untuk menjadi presiden dan wakil presiden, hal ini disebabkan karena adanya tuduhan telah menggunakan penggelapan uang dan kekerasan untuk memenangkan pemilihan.
Pada akhirnya terpilihlah Manuel Roxas menjadi presiden pertama Negara Filipina dengan Wakilnya Elpidio Quirino. Kemerdekaan Republik Filipina di resmikan oleh mereka sendiri pada tanggal 4 Juli 1946. Dengan demikian berakhirlah perjuangan mencapai kemerdekaan Bangsa Filipina, setelah  kurang lebih 5 abad dijajah oleh bangsa Barat akhirnya Negara Filipina berhasil memperoleh kemerdekaannya.

Total Tayangan Halaman

Translate

Pages - Menu